Dalam langkah strategis untuk mengelola lonjakan pariwisata dan melestarikan warisan budayanya yang tak ternilai, Jepang secara progresif menerapkan kebijakan baru yang akan berdampak signifikan pada pengalaman wisatawan. Mulai Ahad, 1 Maret 2026, kota Kyoto yang ikonik akan memberlakukan sistem pajak akomodasi bertingkat yang lebih tinggi, sementara Kastil Himeji yang megah di Prefektur Hyogo telah menaikkan biaya masuknya. Kebijakan ini, yang dirancang untuk menekan dampak overtourism, meningkatkan pendapatan untuk restorasi properti budaya, dan mendukung industri pariwisata berkelanjutan, menandai pergeseran penting dalam pendekatan Jepang terhadap sektor pariwisatanya yang terus berkembang. Wisatawan kini akan menghadapi biaya yang lebih mahal, terutama mereka yang memilih penginapan mewah, namun dana yang terkumpul diharapkan dapat memastikan kelestarian daya tarik Jepang untuk generasi mendatang.
Transformasi Pajak Akomodasi Kyoto: Sebuah Investasi Jangka Panjang
Kota Kyoto, yang terkenal dengan kuil-kuil kuno, taman zen yang tenang, dan distrik geisha yang memesona, telah lama menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun internasional. Posisinya sebagai salah satu destinasi utama dalam “Golden Route” Jepang telah menyebabkan lonjakan pengunjung yang luar biasa, memicu kekhawatiran tentang overtourism. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah kota Kyoto memperkenalkan sistem pajak akomodasi baru yang jauh lebih komprehensif dan bertingkat, yang akan mulai berlaku pada 1 Maret 2026.
Sistem pajak akomodasi baru ini dirancang dalam lima tingkat, menandai peningkatan signifikan dari tarif sebelumnya. Jika sebelumnya tarif maksimum per malam adalah 1.000 yen (sekitar Rp 107.000), kini tarif tertinggi dapat mencapai 10.000 yen atau sekitar Rp 1 juta per orang per malam. Kenaikan ini bukan tanpa alasan; tujuannya adalah untuk mendiversifikasi pendapatan, mendukung industri pariwisata lokal yang lebih berkualitas, dan yang terpenting, mendanai restorasi properti budaya yang tak terhitung jumlahnya yang menjadi daya tarik utama Kyoto.
Berikut adalah rincian tarif pajak akomodasi baru di Kyoto:
- Untuk masa inap kurang dari 6.000 yen (sekitar Rp 646.000) per orang per malam, tarif pajak adalah 200 yen (sekitar Rp 21.500).
- Untuk masa inap antara 6.000 yen hingga di bawah 20.000 yen (sekitar Rp 2,1 juta) per orang per malam, tarif pajak meningkat menjadi 400 yen.
- Untuk masa inap antara 20.000 yen hingga di bawah 50.000 yen (sekitar Rp 5,4 juta) per orang per malam, tarif pajak adalah 1.000 yen.
- Untuk masa inap antara 50.000 yen hingga di bawah 100.000 yen (sekitar Rp 10,8 juta) per orang per malam, tarif pajak adalah 4.000 yen (sekitar Rp 431.000).
- Tarif pajak tertinggi sebesar 10.000 yen (sekitar Rp 1 juta) berlaku untuk masa inap dengan biaya 100.000 yen atau lebih per orang per malam.
Kenaikan tarif penginapan ini diperkirakan akan meningkatkan pendapatan pajak penginapan kota lebih dari dua kali lipat pada tahun fiskal 2026, mencapai sekitar 13,2 miliar yen. Pendapatan substansial ini akan dialokasikan untuk berbagai inisiatif penting. Selain mendukung industri pariwisata secara umum, dana tersebut akan digunakan untuk mendanai restorasi rumah-rumah kota tradisional Kyoto yang dikenal sebagai machiya, yang merupakan bagian integral dari lanskap dan identitas kota. Selain itu, sebagian dana juga akan dialokasikan untuk mengoperasikan bus wisata ekspres. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan penumpang di bus kota reguler, yang seringkali menjadi keluhan utama baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan akibat overtourism.
Manajer Umum Ace Hotel Kyoto, Shiho Ikeuchi, menyebut kebijakan ini sebagai investasi jangka panjang. “Kyoto yang dikelola dengan baik adalah Kyoto yang lebih menarik,” ujarnya, menggarisbawahi filosofi di balik kebijakan ini. Wisatawan disarankan untuk memeriksa apakah pajak akomodasi ini sudah termasuk dalam tarif kamar mereka saat melakukan pemesanan, karena pembayaran pajak akan dilakukan melalui hotel masing-masing.
Kastil Himeji: Warisan Dunia dengan Biaya Konservasi yang Meningkat
Tidak hanya Kyoto, upaya untuk mengelola pariwisata dan melestarikan situs bersejarah juga terlihat di Himeji, Prefektur Hyogo. Kota ini, yang terkenal dengan Kastil Himeji yang megah, telah menaikkan biaya masuk untuk situs Warisan Dunia tersebut. Mulai saat ini, non-penduduk berusia 18 tahun ke atas akan membayar 2.500 yen (sekitar Rp 270.000) untuk masuk, meningkat signifikan dari tarif sebelumnya sebesar 1.000 yen.
Kenaikan biaya masuk ini memiliki tujuan yang jelas: untuk mendanai pemeliharaan dan pelestarian Kastil Himeji. Kastil ini, yang dikenal sebagai Istana Bangau Putih karena eksteriornya yang elegan dan berwarna putih, adalah Pusaka Nasional Jepang dan situs Warisan Dunia UNESCO. Sebagai salah satu dari hanya 12 istana asli yang masih tersisa di Jepang, Himeji merupakan benteng yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah dan arsitektur Jepang.
Kastil Himeji tidak hanya memukau secara visual tetapi juga memiliki sejarah yang kaya dan kompleks. Struktur aslinya, yang berasal dari abad ke-14, telah mengalami beberapa perluasan dan renovasi, menjadikannya contoh terbaik arsitektur kastil Jepang pada periode feodal. Kompleksnya yang luas mencakup lebih dari 80 bangunan, semuanya terhubung oleh jaringan gerbang dan jalan setapak yang rumit. Pemeliharaan situs sebesar ini memerlukan sumber daya yang sangat besar, dan kenaikan biaya masuk diharapkan dapat memastikan kelangsungan hidupnya untuk generasi mendatang.
Menurut pemerintah kota, popularitas Kastil Himeji terus meningkat. Sekitar 1,53 juta orang mengunjungi kastil tersebut pada tahun fiskal 2024, meningkat dari sekitar 1,48 juta pengunjung pada tahun sebelumnya. Yang menarik, wisatawan asing menyumbang proporsi yang semakin besar dari jumlah tersebut, mencapai 35,8 persen pada tahun fiskal 2024, naik dari 30,6 persen sebelumnya. Data ini menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah konservasi dan pengelolaan yang proaktif untuk menyeimbangkan aksesibilitas pariwisata dengan kebutuhan pelestarian.
Strategi Pariwisata Berkelanjutan Jepang: Mengutamakan Kualitas dan Pelestarian
Langkah-langkah yang diambil oleh Kyoto dan Himeji adalah bagian dari tren yang lebih luas di Jepang untuk beralih dari model pariwisata yang hanya berfokus pada volume pengunjung menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan. Fenomena overtourism telah menjadi isu global, dan Jepang, dengan daya tarik budayanya yang unik dan infrastruktur yang efisien, telah menjadi salah satu episentrumnya. Dampak negatif overtourism mencakup kepadatan yang berlebihan di transportasi umum, kerusakan situs-situs bersejarah, gangguan terhadap kehidupan sehari-hari penduduk lokal, dan penurunan kualitas pengalaman wisatawan itu sendiri.
Dengan menaikkan pajak akomodasi secara bertingkat dan biaya masuk situs warisan, Jepang berusaha untuk mencapai beberapa tujuan. Pertama, ini adalah cara untuk menginternalisasi biaya pariwisata. Wisatawan yang menikmati fasilitas dan warisan budaya Jepang berkontribusi langsung pada pemeliharaan dan peningkatannya. Kedua, langkah-langkah ini dapat membantu menggeser fokus dari “pariwisata massal” ke “pariwisata berkualitas.” Dengan biaya yang lebih tinggi, mungkin akan ada pengurangan jumlah wisatawan beranggaran rendah, namun menarik wisatawan yang bersedia membayar lebih untuk pengalaman yang lebih otentik dan dikelola dengan baik.

















