Kepastian Hukum 20 Tahun: Fondasi Transformasi Ekonomi Desa Glagaharjo
Lurah Glagaharjo, Suroto, memberikan penekanan mendalam mengenai urgensi diterbitkannya izin gubernur yang memberikan masa berlaku operasional selama 20 tahun bagi kawasan wisata Teras Merapi. Izin jangka panjang ini bukan sekadar urusan administratif belaka, melainkan sebuah tonggak krusial yang menjamin keberlangsungan investasi dan pembangunan di level desa. Dalam perspektif ekonomi makro desa, Teras Merapi telah menjelma menjadi penyokong utama sekaligus tulang punggung stabilitas finansial bagi masyarakat di lereng gunung api paling aktif di Indonesia tersebut. Berdasarkan data yang dipaparkan, kawasan wisata ini secara konsisten memberikan kontribusi signifikan sebesar kurang lebih 40 persen terhadap total Pendapatan Asli Desa (PAD) setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan betapa vitalnya peran sektor pariwisata dalam menggerakkan roda ekonomi lokal, yang kemudian dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan infrastruktur desa, program pemberdayaan, dan peningkatan layanan publik.
Suroto menjelaskan bahwa dengan adanya kepastian hukum yang berlaku hingga dua dekade mendatang, Pemerintah Desa Glagaharjo kini memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas dan fleksibel dalam merancang peta jalan pembangunan jangka panjang. Ketidakpastian masa berlaku izin yang seringkali menghantui pengelola wisata di masa lalu kini telah terhapuskan, memungkinkan desa untuk mengalokasikan anggaran dan menarik kemitraan strategis guna membangun berbagai fasilitas pendukung yang lebih representatif dan modern. Perencanaan yang matang ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tawar Teras Merapi di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. “Dengan izin yang berlaku hingga 20 tahun ini, desa bisa lebih leluasa untuk membangun fasilitas pendukung,” tegas Suroto saat memberikan keterangan resmi pada Kamis, 22 Januari 2026. Hal ini mencerminkan optimisme baru bahwa Teras Merapi akan bertransformasi dari sekadar destinasi transit menjadi destinasi tujuan utama yang mandiri dan berkelanjutan.
Secara geografis, Teras Merapi memiliki keunggulan komparatif yang sulit ditandingi oleh destinasi lain di wilayah Sleman. Terletak hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi, kawasan ini menyuguhkan panorama visual yang luar biasa megah, di mana wisatawan dapat menyaksikan secara langsung aktivitas vulkanik dari jarak yang relatif aman namun tetap memberikan sensasi ketakjuban. Pemandangan dinding kawah yang menganga dan kepulan asap solfatara menjadi magnet utama bagi para pemburu keindahan alam dan fotografer profesional. Ke depan, rencana pengembangan Teras Merapi tidak hanya akan berhenti pada eksploitasi keindahan alam semata, namun akan difokuskan secara mendalam pada diversifikasi wahana yang selama ini menjadi primadona dan paling digemari oleh para pelancong, baik domestik maupun mancanegara.
Integrasi Destinasi dan Inovasi Fasilitas Berbasis Segmen Keluarga
Strategi pengembangan yang diusung oleh pengelola Teras Merapi ke depannya akan sangat menitikberatkan pada aspek estetika dan pengalaman pengguna (user experience). Mengingat tren media sosial yang terus berkembang, pengelola berencana untuk menambahkan sejumlah spot foto tematik di berbagai sudut strategis yang menonjolkan latar belakang kegagahan puncak Merapi. Penambahan titik-titik swafoto ini dirancang secara artistik agar selaras dengan ekosistem alam sekitar, sehingga tidak merusak lanskap asli namun tetap memberikan nilai tambah bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen mereka. Selain itu, aspek kenyamanan pengunjung menjadi prioritas utama melalui rencana peningkatan fasilitas publik yang lebih inklusif dan ramah bagi semua kalangan.
Menyadari bahwa mayoritas pengunjung Teras Merapi berasal dari segmen keluarga dan komunitas pencinta kemping (camping enthusiasts), pengelola akan memperluas fasilitas ramah anak dan area edukasi alam. Pengembangan ini mencakup area bermain yang aman, jalur trekking ringan untuk anak-anak, serta fasilitas sanitasi yang lebih bersih dan memadai. Teras Merapi ingin memosisikan diri sebagai destinasi “one-stop leisure” di mana orang tua dapat menikmati suasana pegunungan yang tenang sementara anak-anak mereka dapat beraktivitas secara aktif di alam terbuka. Fokus pada segmen keluarga ini dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan lama kunjungan (length of stay) dan tingkat kunjungan kembali (revisit rate) wisatawan ke Glagaharjo.
Lebih jauh lagi, Teras Merapi akan diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam ekosistem pariwisata lereng Merapi yang lebih luas. Lokasinya yang sangat berdekatan dengan destinasi populer lainnya seperti Bukit Klangon dan jalur olahraga ekstrem downhill akan dimanfaatkan untuk menciptakan sinergi lintas destinasi. Salah satu langkah konkretnya adalah pengintegrasian rute jip wisata Merapi yang sudah ada dengan titik-titik pemberhentian di Teras Merapi. Dengan integrasi ini, wisatawan jip tidak hanya sekadar melintas, namun dapat berhenti sejenak untuk menikmati fasilitas di Teras Merapi, seperti kolam renang yang menyegarkan atau mencoba wahana ATV yang menantang adrenalin. Konektivitas antar-destinasi ini diharapkan dapat menciptakan multiplier effect bagi para pelaku UMKM dan penyedia jasa transportasi wisata di sekitar kawasan tersebut.
Legalitas Pertanahan dan Komitmen Pelestarian Lingkungan Berkelanjutan
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, memberikan catatan penting mengenai arah pengembangan destinasi wisata di lereng Merapi. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata tidak boleh dilakukan secara serampangan atau mengabaikan aturan hukum yang berlaku. Aspek legalitas, terutama terkait dengan tertib administrasi pertanahan, merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pengelola desa wisata. Hal ini bertujuan agar pemerintah desa dapat mengelola aset-asetnya secara legal, transparan, dan akuntabel, sehingga terhindar dari potensi sengketa hukum di masa depan yang dapat merugikan masyarakat desa itu sendiri. “Agar desa bisa mengelola asetnya secara legal dan transparan,” ujar Harda, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi pertanahan sebagai dasar pembangunan yang sehat.
Selain masalah legalitas, Harda Kiswaya juga menyoroti dua aspek fundamental yang tidak boleh ditawar dalam pengembangan Teras Merapi, yaitu keselamatan wisatawan dan kelestarian lingkungan hidup. Mengingat letak geografis Teras Merapi yang berada di zona rawan bencana karena kedekatannya dengan kawah aktif, infrastruktur yang dibangun wajib memenuhi standar keamanan dan mitigasi bencana yang ketat. Fasilitas pendukung seperti shelter pengungsian, jalur evakuasi yang jelas, dan sistem peringatan dini harus menjadi bagian integral dari desain kawasan. Harda mengingatkan bahwa kenyamanan pengunjung harus berjalan beriringan dengan rasa aman, sehingga citra pariwisata Sleman tetap terjaga sebagai destinasi yang bertanggung jawab.
Sebagai penutup dari visi pengembangannya, Bupati Sleman mendorong adanya upaya penghijauan yang masif di tengah gencarnya pembangunan fasilitas fisik. Penanaman bibit pohon baru di area Teras Merapi bukan hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga sebagai upaya konservasi air dan pencegahan erosi di lereng gunung. Dengan kombinasi fasilitas yang sudah mapan seperti area campervan, kolam renang pegunungan, dan wahana ATV yang seru, ditambah dengan kepastian legalitas tanah desa yang kuat, Teras Merapi diyakini akan semakin kokoh berdiri sebagai destinasi unggulan di lereng Merapi. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa wisata lain dalam menyeimbangkan antara eksploitasi ekonomi pariwisata dengan pelestarian ekologi serta kepatuhan administratif.


















