Sebuah pernyataan mengejutkan dari Istana Buckingham pada Senin, 10 Februari 2026, mengonfirmasi dukungan Raja Charles III terhadap langkah kepolisian Inggris dalam menyelidiki dugaan keterlibatan Pangeran Andrew, yang kini dikenal sebagai Andrew Mountbatten-Windsor, dalam kasus yang melibatkan pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Penyelidikan ini berpusat pada laporan bahwa Andrew diduga membocorkan informasi rahasia, termasuk laporan perdagangan dari kunjungan resminya ke Asia Tenggara pada tahun 2010, kepada Epstein. Skandal ini semakin memanas setelah jutaan dokumen terkait Epstein dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, mengungkap korespondensi email yang diduga menjadi bukti keterlibatan Andrew. Pertanyaan krusial yang muncul adalah sejauh mana keterlibatan Andrew, apa saja informasi rahasia yang dibocorkan, dan bagaimana Raja Charles III mengambil sikap tegas dalam menghadapi isu sensitif yang mencoreng nama baik kerajaan.
Raja Charles III Tegaskan Dukungan Penuh Terhadap Penyelidikan Kepolisian
Dalam sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Istana Buckingham secara resmi menyatakan bahwa Raja Charles III memberikan dukungan penuh kepada Kepolisian Thames Valley dalam penyelidikan mereka terhadap Pangeran Andrew. Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap maraknya pemberitaan media mengenai dugaan Pangeran Andrew mengirimkan laporan perdagangan kepada Jeffrey Epstein pada tahun 2010. Kepolisian Thames Valley mengonfirmasi bahwa mereka tengah menelaah laporan resmi yang diterima dari seorang aktivis anti-monarki terkait dugaan penyalahgunaan jabatan publik dan pelanggaran Undang-Undang Rahasia Resmi Inggris. Raja Charles sendiri, sebagaimana disampaikan melalui juru bicaranya, telah menyatakan keprihatinan mendalam atas berbagai tuduhan yang terus bermunculan terkait perilaku adiknya. Dukungan ini tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga mencakup kesiapan Istana untuk memberikan bantuan dan kerja sama yang diperlukan apabila pihak kepolisian menghubunginya.
Pernyataan Istana Buckingham yang dilansir dari Al Jazeera secara gamblang menyampaikan, “Raja Charles telah menyatakan dengan jelas, baik melalui pernyataan maupun langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, keprihatinan mendalamnya terhadap berbagai tuduhan yang terus bermunculan terkait perilaku Tuan Mountbatten-Windsor.” Lebih lanjut, dalam pernyataan tersebut ditegaskan, “Meski klaim spesifik ini merupakan hal yang harus dijelaskan oleh Andrew Mountbatten-Windsor sendiri, apabila kami dihubungi oleh Kepolisian Thames Valley, kami siap memberikan dukungan sebagaimana mestinya.” Sikap tegas Raja Charles ini menandakan keseriusannya dalam menjaga integritas institusi kerajaan dan memastikan bahwa setiap tuduhan serius akan ditangani dengan adil dan transparan. Dukungan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa tidak ada individu, bahkan anggota keluarga kerajaan, yang berada di atas hukum.
Pengungkapan Dokumen Epstein: Akar Penyelidikan Baru
Pemicu utama dari penyelidikan terbaru ini adalah dirilisnya lebih dari tiga juta halaman dokumen oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat bulan lalu, yang berkaitan erat dengan kasus Jeffrey Epstein. Dokumen-dokumen tersebut mengungkap berbagai korespondensi, termasuk email yang diduga dikirim oleh Pangeran Andrew kepada Epstein. Salah satu temuan krusial adalah adanya dugaan Pangeran Andrew meneruskan salinan laporan dari kunjungan resminya selama dua minggu ke Asia Tenggara kepada Epstein tak lama setelah kembali ke Inggris. Kunjungan tersebut mencakup beberapa kota penting seperti Hanoi, Saigon, Singapura, Kuala Lumpur, dan Hong Kong, di mana Andrew bertugas sebagai utusan Inggris untuk perdagangan internasional. Laporan ini merujuk pada korespondensi email yang spesifik, yang menjadi dasar bagi Kepolisian Thames Valley untuk memulai penelusuran lebih lanjut.
Penyelidikan polisi secara resmi dimulai setelah Graham Smith, CEO dari kelompok anti-monarki Republic, mengajukan laporan resmi terhadap Pangeran Andrew. Smith menuduh Andrew melakukan penyalahgunaan jabatan publik dan pelanggaran terhadap Undang-Undang Rahasia Resmi Inggris. Dengan dirilisnya dokumen-dokumen ini, publik kini memiliki gambaran yang lebih luas mengenai luasnya jaringan Epstein dan potensi keterlibatan tokoh-tokoh berpengaruh. Korespondensi email yang terungkap menjadi bukti awal yang kuat, mendorong pihak berwenang untuk melakukan investigasi mendalam guna mengungkap kebenaran di balik tuduhan tersebut. Analisis mendalam terhadap isi laporan perdagangan yang diduga diteruskan kepada Epstein akan menjadi kunci untuk memahami sejauh mana informasi rahasia tersebut dapat membahayakan kepentingan nasional Inggris.
Andrew Mountbatten-Windsor: Bayang-bayang Skandal Epstein yang Tak Kunjung Usai
Pangeran Andrew, yang kini berusia 65 tahun dan menggunakan nama Andrew Mountbatten-Windsor, telah lama berada di bawah sorotan publik akibat hubungannya yang erat dengan Jeffrey Epstein. Hubungan ini telah menimbulkan konsekuensi serius baginya, termasuk kehilangan peran resmi dalam keluarga kerajaan, pencabutan gelar kehormatan, dan bahkan pengusiran dari kediamannya. Meskipun demikian, Pangeran Andrew secara konsisten membantah melakukan pelanggaran hukum dan belum memberikan komentar resmi sejak dokumen-dokumen Epstein terbaru dirilis. Ketidakberadaannya dalam memberikan klarifikasi di tengah gelombang pengungkapan baru ini semakin menimbulkan pertanyaan dan spekulasi di kalangan publik.
Sebagai dampak langsung dari maraknya berita ihwal keterlibatannya dengan Epstein, Pangeran Andrew telah dipindahkan dari kediamannya di Royal Lodge, Windsor. Menurut laporan dari CBS News, ia kini tinggal di Sandringham, sebuah kawasan perkebunan pribadi milik Raja Charles III di Norfolk, Inggris timur. Kepindahan ini diumumkan oleh Istana Buckingham pada bulan Oktober lalu dan semula dijadwalkan terjadi pada awal tahun 2026. Namun, perpindahan ini tampaknya dipercepat dan terjadi secara tertutup, hanya beberapa hari setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen dan foto tambahan terkait Jeffrey Epstein. Keputusan pindah ke Sandringham, yang merupakan properti kerajaan, dapat diartikan sebagai upaya untuk menjaga jarak dari sorotan publik yang semakin intens, sekaligus menempatkannya di bawah pengawasan yang lebih ketat dari keluarga kerajaan.

















