Misteri panjang yang menyelimuti kehidupan ganda mendiang miliarder Jeffrey Epstein kini memasuki babak baru yang mengguncang panggung geopolitik internasional setelah terungkapnya dokumen rahasia Biro Investigasi Federal (FBI) tahun 2020. Laporan intelijen yang didasarkan pada kesaksian sumber manusia rahasia (CHS) tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa Jeffrey Epstein bukan sekadar pelaku kejahatan seksual lintas negara, melainkan seorang agen yang dilatih secara khusus oleh Mossad, dinas intelijen luar negeri Israel. Keterlibatan Epstein dalam jaringan spionase ini diduga kuat melibatkan tokoh-tokoh kelas atas seperti mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan pengacara kondang Alan Dershowitz, yang mengindikasikan bahwa operasi perdagangan anak yang dijalankannya berfungsi sebagai instrumen pengumpulan data strategis atau operasi intelijen untuk kepentingan keamanan nasional Israel di Washington dan panggung global lainnya.
Dokumen FBI 2020: Pengungkapan Status Agen Intelijen Jeffrey Epstein
Dokumen bertanggal 19 Oktober 2020 tersebut menyajikan rincian yang sangat spesifik mengenai bagaimana Epstein beroperasi di bawah koordinasi langsung otoritas keamanan Israel. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Middle East Monitor pada awal Februari 2026, dokumen ini mengonfirmasi spekulasi bertahun-tahun yang menyatakan bahwa aktivitas kriminal Epstein hanyalah kedok bagi peran yang lebih besar sebagai pengumpul informasi sensitif atau “intelligence gatherer”. Sumber rahasia FBI (CHS) mengungkapkan adanya rangkaian komunikasi intensif yang melibatkan lingkaran dalam Epstein, yang menunjukkan pola kerja organisasi intelijen profesional daripada sekadar sindikat kriminal biasa. Dalam catatan tersebut, terungkap bahwa setiap langkah Epstein dipantau dan diarahkan untuk memastikan aliran informasi dari tokoh-tokoh berpengaruh dunia tetap mengalir ke pusat komando intelijen di Tel Aviv.
Salah satu poin paling krusial dalam dokumen tersebut adalah pengungkapan hubungan personal yang mendalam antara Epstein dengan Ehud Barak, mantan Perdana Menteri sekaligus mantan Menteri Pertahanan Israel yang memiliki pengaruh luas di komunitas intelijen. Epstein dilaporkan tidak hanya memiliki kedekatan sosial dengan Barak, tetapi juga “dilatih” secara sistematis untuk menjadi aset intelijen yang efektif. Keterlibatan Barak dalam kehidupan Epstein telah lama menjadi sorotan, terutama setelah berbagai laporan media internasional mengidentifikasi kehadiran Barak di kediaman Epstein pada saat-saat yang krusial. Referensi tambahan menyebutkan bahwa Barak diduga berperan sebagai mentor atau penghubung utama yang memfasilitasi integrasi Epstein ke dalam struktur operasional Mossad, memperkuat dugaan bahwa kekayaan melimpah dan akses tanpa batas yang dimiliki Epstein merupakan hasil dari dukungan logistik dan perlindungan tingkat tinggi dari entitas negara tertentu.
Peran Alan Dershowitz dan Mekanisme Taklimat Operasional Mossad
Nama Alan Dershowitz, profesor ilmu hukum terkemuka dari Harvard yang juga bertindak sebagai pengacara Epstein, muncul sebagai figur sentral dalam narasi spionase ini. Dokumen FBI merinci serangkaian percakapan telepon antara Dershowitz dan Epstein yang disadap, di mana Mossad dilaporkan memberikan “taklimat” atau briefing langsung kepada Dershowitz. Analisis intelijen dari sumber rahasia tersebut menyimpulkan bahwa proses taklimat ini bukan sekadar diskusi hukum, melainkan bagian integral dari koordinasi operasi intelijen yang sedang berjalan. Lebih mengejutkan lagi, CHS dalam dokumen FBI menyatakan keyakinannya bahwa Dershowitz telah “dikooptasi” oleh Mossad dan secara aktif didaftarkan untuk menjalankan misi-misi mereka. Pernyataan Dershowitz di masa lalu yang secara terbuka menyebutkan keinginannya untuk bergabung dengan Mossad jika ia masih muda, kini dipandang oleh para penyelidik bukan sekadar retorika emosional, melainkan cerminan dari afiliasi ideologis dan operasionalnya yang mendalam dengan badan intelijen tersebut.
Secara total, dokumen tersebut menyajikan profil Jeffrey Epstein sebagai aparat intelijen aktif, sebuah klaim yang ditegaskan secara eksplisit oleh sumber-sumber di lapangan. CHS menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa hubungan Epstein dengan Ehud Barak dan Dershowitz berada dalam kerangka peran intelijen yang lebih luas, yang bertujuan untuk mengamankan kepentingan strategis melalui manipulasi informasi dan pengaruh. Transformasi status Epstein dari seorang predator seksual menjadi aset intelijen mengubah peta hukum secara drastis; aktivitasnya di pulau pribadi Little St. James kini dicurigai sebagai operasi “kompromat” atau pengumpulan materi pemerasan melalui rekaman video tersembunyi. Dengan menjebak politisi, pebisnis, dan bangsawan dalam situasi yang memalukan, Epstein menyediakan alat tawar-menawar yang sangat berharga bagi pihak-pihak yang mengendalikannya untuk memengaruhi kebijakan luar negeri negara-negara sekutunya.
Dampak Global dan Keterkaitan dengan Jaringan Internasional
Dampak dari terbukanya “Epstein Files” ini tidak hanya terbatas pada Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga merambah ke kawasan lain termasuk Asia Tenggara. Dengan rilisnya jutaan dokumen oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ), terungkap bahwa jaringan Epstein memiliki tentakel yang sangat luas, mencakup lebih dari 180.000 file yang berisi nama-nama tokoh dunia, data intelijen, hingga rincian transaksi yang mencurigakan. Di Indonesia dan Malaysia, munculnya nama-nama tertentu dalam manifes penerbangan atau catatan komunikasi Epstein telah memicu debat publik mengenai sejauh mana pengaruh jaringan ini merasuk ke dalam elit lokal. Keterkaitan ini menunjukkan bahwa operasi yang dijalankan Epstein bukan hanya tentang kepuasan pribadi, melainkan sebuah mesin birokrasi intelijen yang sangat terorganisir dengan jangkauan global yang dirancang untuk menciptakan ketergantungan dan kontrol terhadap para pengambil keputusan di berbagai negara.
Kesimpulan yang ditarik dari dokumen FBI tahun 2020 ini menempatkan Jeffrey Epstein dalam kategori yang berbeda dari narasi kriminalitas murni yang selama ini beredar di media massa. Pengakuan dari sumber daya manusia rahasia tersebut merepresentasikan bukti formal yang menempatkan Epstein sebagai instrumen negara daripada sekadar individu yang menyimpang secara moral. Dengan dukungan infrastruktur intelijen yang kuat, Epstein mampu menghindari jeratan hukum selama puluhan tahun, sebuah fakta yang kini dipahami sebagai hasil dari perlindungan timbal balik antara agen dan organisasinya. Hingga saat ini, pengungkapan ini terus memicu penyelidikan lebih lanjut mengenai sejauh mana badan intelijen asing dapat beroperasi di tanah Amerika dengan memanfaatkan kerentanan para pemimpinnya, menjadikan kasus Epstein sebagai salah satu skandal intelijen dan kejahatan seksual terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah modern.

















