GAZA – Sebuah secercah harapan yang rapuh baru saja menyelimuti Jalur Gaza yang terkepung, ketika penyeberangan Rafah, gerbang vital menuju dunia luar, dibuka kembali secara terbatas pada awal pekan ini. Namun, harapan itu segera berhadapan dengan realitas yang pahit: hanya 27 warga Palestina yang berhasil melintas pada hari pertama, angka yang jauh di bawah ekspektasi dan janji yang diberikan oleh Israel maupun Mesir. Insiden ini, yang terjadi di perbatasan krusial antara Gaza dan Mesir, mengungkap kompleksitas logistik, hambatan keamanan yang ketat dari Israel, dan krisis kemanusiaan mendalam yang terus membelenggu jutaan jiwa di wilayah tersebut, bahkan setelah lebih dari 20 bulan penutupan yang melumpuhkan.
Pembukaan kembali penyeberangan Rafah ini, meskipun parsial, telah lama dinanti-nantikan oleh ribuan warga Gaza yang terisolasi. Laporan awal dari Reuters menyebutkan bahwa sekitar 150 orang dijadwalkan untuk meninggalkan wilayah tersebut pada hari Senin, sementara 50 orang lainnya diharapkan masuk. Angka-angka ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan pergerakan, baik untuk tujuan medis, reuni keluarga, maupun perdagangan. Namun, ketika malam tiba, kenyataan berbicara lain. Sumber-sumber Palestina dan Mesir mengungkapkan bahwa Israel hanya mengizinkan 12 warga Palestina untuk kembali memasuki Gaza. Sebanyak 38 orang lainnya, yang telah melewati sisi penyeberangan Mesir, terpaksa menunggu semalaman karena belum berhasil melewati pemeriksaan keamanan Israel yang ketat. Keterlambatan ini, yang secara langsung disalahkan pada proses pemeriksaan keamanan Israel oleh para pejabat Palestina, menyoroti tantangan besar yang dihadapi warga Gaza bahkan dalam upaya sederhana untuk melintasi perbatasan.
Kasus keluarnya pasien medis menjadi sorotan utama dari pembukaan terbatas ini. Hanya lima pasien yang diizinkan menyeberang ke Mesir, masing-masing dikawal oleh dua kerabat. Ini berarti total hanya 15 orang (5 pasien + 10 kerabat) yang mendapatkan akses untuk perawatan medis vital. Jika digabungkan dengan mereka yang diizinkan masuk dan keluar, jumlah total yang melintas pada hari pertama hanya mencapai 27 orang. Militer Israel sendiri belum memberikan komentar resmi terkait keterlambatan ini, namun tayangan televisi pemerintah Mesir menunjukkan ambulans-ambulans yang menunggu berjam-jam di perbatasan, baru dapat mengangkut pasien setelah matahari terbenam. Penyeberangan Rafah sendiri telah ditutup sejak pasukan Israel merebut kendalinya pada Mei 2024, hanya sesekali dibuka sebentar selama gencatan senjata pada awal tahun 2025 untuk evakuasi medis darurat, menggarisbawahi betapa langkanya kesempatan pergerakan bagi warga Gaza.
Gerbang Harapan yang Terkepung: Rafah dan Krisis Kemanusiaan
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk akibat penutupan Rafah. Diperkirakan sekitar 20.000 anak-anak dan orang dewasa Palestina sangat membutuhkan perawatan medis dan berharap dapat meninggalkan wilayah yang hancur tersebut melalui penyeberangan ini. Di sisi lain, ribuan warga Palestina yang berada di luar Gaza juga menanti kesempatan untuk kembali ke rumah mereka. Ketika Israel mengambil kendali atas penyeberangan Rafah, mereka berdalih tindakan tersebut diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata oleh Hamas. Namun, konsekuensi dari tindakan ini adalah isolasi total bagi wilayah tersebut, memutus jalur kehidupan penting bagi warga Palestina yang mencari akses terhadap perawatan medis, perjalanan, dan perdagangan yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup.
Dampak penutupan Rafah terhadap sistem layanan kesehatan di Gaza sungguh menghancurkan. Ribuan warga sipil telah mendaftar ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk evakuasi medis. Menurut Médecins Sans Frontières (MSF), lebih dari satu dari lima pasien yang membutuhkan evakuasi adalah anak-anak. Di antara mereka yang sakit, terdapat lebih dari 11.000 pasien kanker yang sangat membutuhkan penanganan khusus. Serangan udara Israel yang menargetkan rumah sakit telah melumpuhkan sistem layanan kesehatan Palestina secara fundamental. Pada Maret 2025, Israel bahkan menghancurkan satu-satunya rumah sakit khusus pengobatan kanker di Gaza, yang merupakan satu-satunya penyedia perawatan onkologi di seluruh wilayah. Sejak saat itu, para dokter terpaksa beroperasi di klinik darurat, tanpa sumber daya memadai, termasuk peralatan penting untuk diagnosis dan pengobatan. Pejabat kesehatan Gaza melaporkan bahwa ada sekitar 4.000 orang yang memiliki rujukan resmi untuk berobat ke negara ketiga namun tidak dapat melintasi perbatasan.
Bagi sebagian orang, pembukaan kembali ini datang terlambat. Kisah tragis Dalia Abu Kashef, seorang wanita berusia 28 tahun, menjadi pengingat pahit akan dampak penutupan ini. Dalia meninggal pekan lalu saat menunggu izin menyeberang untuk menjalani transplantasi hati. “Kami menemukan seorang sukarelawan – saudara laki-lakinya – yang siap mendonorkan sebagian hatinya,” tutur suaminya, Muatasem El-Rass, kepada Reuters. “Kami menunggu penyeberangan dibuka sehingga kami dapat melakukan perjalanan dan melakukan operasi, berharap mendapatkan akhir yang bahagia. Namun kondisinya memburuk dan meninggal.” WHO mencatat bahwa 900 orang, termasuk anak-anak dan pasien kanker, telah meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis, menggambarkan skala tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung. Pembukaan kembali perbatasan Rafah secara terbatas juga menawarkan kesempatan langka bagi keluarga-keluarga yang terpecah belah oleh perang selama lebih dari dua tahun untuk bersatu kembali. Banyak keluarga yang mengungsi ke Kairo pada awal perang tidak menyangka akan terpisah selama itu. Pada bulan-bulan awal perang, sebelum Israel menutup jalur penyeberangan, sekitar 100.000 warga Palestina telah keluar ke Mesir melalui Rafah.
“Saya mencintai Gaza, dan saya tidak melihat tempat lain yang senyaman rumah saya,” ungkap Mohammad Talal, 28, seorang pedagang mata uang yang rumahnya di Jabalia, Gaza utara, hancur lebur. “Mau balik ke tenda? Saya tak peduli,” ucapnya, menunjukkan tekad untuk kembali ke tanah airnya. “Saya tidak sabar untuk menggendong ayah saya dan mencium keningnya.” Perasaan ini mencerminkan kerinduan mendalam ribuan warga Gaza yang terpaksa hidup terpisah dari keluarga dan tanah kelahiran mereka.
Dinamika Geopolitik dan Kendali Israel atas Jalur Vital
Secara politis, Israel telah menggunakan penyeberangan Rafah sebagai alat tawar-menawar yang kuat. Pembukaan kembali penyeberangan ini secara eksplisit dihubungkan dengan kembalinya semua sandera yang disandera selama serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal. Posisi ini baru berubah pada minggu lalu, ketika militer Israel mengumumkan telah menemukan sisa-sisa tawanan terakhir, Ran Gvili, seorang sersan polisi yang terbunuh dalam serangan awal yang memicu perang. Penemuan ini tampaknya menjadi katalisator bagi perubahan kebijakan Israel terkait Rafah.
Pembukaan kembali wilayah tersebut dipandang sebagai langkah penting seiring dengan masuknya fase kedua perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat. Fase pertama perjanjian tersebut menyerukan pertukaran seluruh sandera yang ditahan di Gaza dengan ratusan warga Palestina yang ditahan oleh Israel, peningkatan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan, dan penarikan sebagian pasukan Israel. Namun, kendali Israel atas Rafah masih menjadi kekhawatiran besar bagi banyak warga Palestina. Semua pergerakan melalui penyeberangan setelah pembukaan kembali sebagian akan tunduk pada pemeriksaan keamanan gabungan Israel-Mesir. Israel telah menegaskan bahwa, untuk saat ini, hanya sejumlah kecil dari puluhan ribu warga Palestina yang terluka dan sakit di Gaza yang akan diizinkan keluar setiap hari. Selain itu, ada pertanyaan mendasar tentang bagaimana warga Palestina dapat mencapai perlintasan Rafah mengingat jalur tersebut berada di “garis kuning” yang berada di bawah kendali penuh militer Israel, menambah lapisan kesulitan dan ketidakpastian bagi mereka yang sangat membutuhkan akses ke dunia luar.

















