Analisis Mendalam Mantan Presiden SBY: Ancaman Perang Dunia Mengintai, Seruan Aksi Nyata Menggema
Dalam sebuah pernyataan yang menggugah dan sarat makna, mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baru-baru ini melontarkan kekhawatiran mendalam mengenai lanskap geopolitik global. Beliau menyandingkan situasi dunia saat ini dengan periode-periode krusial dalam sejarah manusia, yakni menjelang pecahnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Analogi ini bukan sekadar retorika kosong, melainkan sebuah peringatan serius yang didasarkan pada observasi cermat terhadap berbagai gejolak dan konflik yang kian marak terjadi di berbagai belahan bumi. SBY menekankan bahwa kewaspadaan masyarakat global harus ditingkatkan, mengingat eskalasi ketegangan dan aksi-aksi militer yang mulai terlihat jelas, mengindikasikan potensi memburuknya situasi keamanan internasional.
Kekhawatiran SBY bukan tanpa dasar. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa periode ketidakstabilan politik, persaingan kekuatan besar, dan meningkatnya tensi militer seringkali menjadi prekursor bagi konflik berskala luas. Fenomena seperti meningkatnya anggaran militer di banyak negara, uji coba senjata canggih, serta retorika yang semakin tajam antarnegara, semuanya berkontribusi pada atmosfer ketegangan global. Mantan Presiden RI ini, dengan pengalaman panjangnya dalam memimpin negara dan berinteraksi di kancah internasional, memiliki perspektif unik untuk melihat pola-pola yang mungkin terlewatkan oleh pengamat awam. Pernyataannya ini berfungsi sebagai alarm bagi seluruh umat manusia untuk tidak menganggap remeh potensi bahaya yang mengintai peradaban.
Perang Dunia III: Ancaman Eksistensial yang Membutuhkan Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Doa
Lebih jauh lagi, SBY menegaskan bahwa potensi pecahnya Perang Dunia III bukanlah sekadar narasi ketakutan yang dilebih-lebihkan atau cerita fiksi ilmiah. Beliau secara tegas menyebutnya sebagai sebuah “ancaman eksistensial” yang dapat mengancam keberlangsungan peradaban manusia itu sendiri. Ancaman ini menjadi semakin mengerikan ketika dipertimbangkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir, sebuah skenario yang dapat mengakibatkan korban jiwa dalam skala yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. SBY memperkirakan bahwa jika perang total pecah dan senjata pemusnah massal digunakan, jumlah korban jiwa bisa melampaui angka 5 miliar manusia, sebuah angka yang mencengangkan dan menggambarkan betapa mengerikannya konsekuensi dari kegagalan menjaga perdamaian.
Dalam konteks ini, SBY mengingatkan sebuah kekeliruan fundamental yang seringkali dilakukan oleh umat manusia: berserah diri pada doa tanpa dibarengi dengan langkah-langkah nyata dan upaya aktif. Beliau berargumen bahwa keselamatan bumi dan pencegahan bencana besar seperti perang dunia tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada kekuatan ilahi semata. Sebaliknya, SBY menekankan bahwa keselamatan planet ini sangat bergantung pada tindakan proaktif dan kolektif dari para pemimpin dunia serta seluruh masyarakat global. “Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya,” tegasnya, menggarisbawahi pentingnya peran aktif manusia dalam menjaga perdamaian dan keamanan.
Untuk memperkuat argumennya, SBY mengutip pemikiran para tokoh intelektual terkemuka. Kutipan dari Edmund Burke, yang menekankan bahwa kejahatan merajalela ketika orang-orang baik memilih untuk diam, dan Albert Einstein, yang juga seringkali menyuarakan keprihatinan tentang potensi kehancuran akibat konflik, menjadi landasan pemikiran SBY. Beliau mewanti-wanti bahwa keheningan dan ketidakpedulian dari individu-individu yang memiliki kesadaran dan kapasitas untuk bertindak justru dapat menjadi pemicu bagi kehancuran. Oleh karena itu, SBY menyerukan agar 8,3 miliar penduduk bumi tidak lagi berdiam diri, melainkan mulai berbicara, bersuara, dan bertindak secara kolektif sebelum terlambat dan segalanya berada di luar kendali.
SBY Mendesak Pemimpin Dunia: Inisiatif Sidang Umum Darurat PBB Sebagai Solusi Konkret
Menyadari urgensi situasi, SBY tidak hanya mengemukakan kekhawatiran, tetapi juga mengusulkan solusi konkret yang dapat diimplementasikan. Sebagai langkah terobosan, beliau mendesak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif yang luar biasa untuk meredam tensi global yang kian meningkat. Usulan utamanya adalah penyelenggaraan sebuah “Emergency UN General Assembly” atau Sidang Umum Darurat PBB. Sidang ini diharapkan dapat dihadiri secara langsung oleh para pemimpin dunia, memberikan platform bagi dialog tingkat tinggi, dan menciptakan momentum untuk de-eskalasi konflik.
SBY mengakui bahwa PBB saat ini mungkin terlihat memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya secara efektif dalam menghadapi kompleksitas geopolitik modern. Namun, beliau dengan tegas menekankan bahwa lembaga internasional yang didirikan untuk menjaga perdamaian dunia ini tidak boleh hanya berdiam diri dan membiarkan sejarah mencatatnya sebagai pihak yang pasif atau “doing nothing.” Mantan Pangdam II/Sriwijaya ini berpandangan bahwa meskipun seruan untuk perdamaian mungkin terdengar seperti “berseru di padang pasir” dalam konteks diplomasi yang keras, inisiatif semacam itu justru bisa menjadi awal dari kebangkitan kesadaran global untuk menyelamatkan dunia. Pernyataan SBY ini muncul pada saat yang krusial, di mana dinamika global terus berubah dengan cepat, termasuk peristiwa-peristiwa besar seperti penangkapan pemimpin negara berdaulat yang telah secara signifikan mengubah peta diplomasi internasional dan menambah kompleksitas dalam upaya menjaga stabilitas global.


















