Ketegangan di perbatasan Pakistan dan Afghanistan telah meledak menjadi konfrontasi militer skala penuh, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan dan mendeklarasikan status “perang terbuka” pada akhir pekan yang mematikan. Pemicu utama eskalasi ini adalah serangkaian insiden di sepanjang Garis Durand, garis demarkasi yang menjadi sengketa, yang berpuncak pada serangan balasan yang menewaskan sedikitnya 18 orang di wilayah Afghanistan. Insiden ini, yang terjadi pada Kamis (26/2/2026) dan Jumat (27/2/2026), telah menarik perhatian dunia terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan yang sudah bergejolak, mendefinisikan titik terendah dalam hubungan bilateral kedua negara dan memicu kekhawatiran akan stabilitas regional.
Pemerintahan Taliban Afghanistan secara eksplisit mengklaim bahwa serangan yang mereka lancarkan ke wilayah Pakistan merupakan respons langsung terhadap apa yang mereka sebut sebagai “provokasi dan pelanggaran berulang” oleh militer Pakistan. Juru bicara pemerintah Taliban Afghanistan, Zabihullah Mujahid, melalui unggahan di platform media sosial X (sebelumnya Twitter) pada Jumat (27/2/2026), mengumumkan bahwa “operasi ofensif skala besar” telah diluncurkan. Operasi ini secara spesifik menargetkan posisi dan instalasi militer Pakistan yang berada di sepanjang Garis Durand, sebuah wilayah perbatasan yang telah lama menjadi sumber ketegangan dan konflik. Menurut klaim militer Afghanistan, serangan pada hari Kamis tersebut sangat efektif, mengakibatkan tewasnya 55 tentara Pakistan dan berhasil direbutnya 19 pos militer, sebuah angka yang jika benar, menunjukkan skala dan intensitas serangan yang signifikan.
Respons dari Islamabad tidak kalah tegas dan dramatis. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara terbuka mendeklarasikan “perang terbuka” dengan pemerintah Taliban Afghanistan, menandai eskalasi retorika dan tindakan yang tajam di perbatasan kedua negara. Pernyataan Asif, yang berbunyi, “Kesabaran kami sudah habis. Sekarang adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” menggarisbawahi kegeraman dan tekad Pakistan untuk menanggapi apa yang mereka anggap sebagai agresi. Sebagai balasan atas serangan Afghanistan yang menargetkan situs-situs militer Pakistan di sepanjang Garis Durand pada Kamis (26/2/2026) malam, Pakistan melancarkan serangkaian serangan udara yang menyasar kota-kota besar di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, serta Kandahar dan Paktia. Serangan udara ini, yang dilaporkan terjadi pada Jumat (27/2/2026), merupakan kali pertama Pakistan secara langsung menargetkan pemerintahan Taliban, menunjukkan peningkatan drastis dalam tingkat konfrontasi dan kesediaan Pakistan untuk menggunakan kekuatan militer secara terbuka.
Akar Konflik di Garis Durand dan Tuduhan Terorisme
Konflik yang kini berkobar di perbatasan Pakistan dan Afghanistan tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang ketegangan seputar Garis Durand. Garis demarkasi sepanjang 2.670 kilometer yang ditarik pada tahun 1893 oleh Sir Mortimer Durand, seorang diplomat Inggris, telah lama menjadi sumber perselisihan. Afghanistan secara historis tidak pernah mengakui Garis Durand sebagai perbatasan internasional yang sah, menganggapnya sebagai warisan kolonial yang memecah-belah etnis Pashtun di kedua sisi. Ketidakjelasan status perbatasan ini menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh berbagai kelompok militan, termasuk Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), atau Taliban Pakistan, yang seringkali beroperasi melintasi perbatasan dan menjadi ancaman serius bagi keamanan Pakistan.
Pemerintah Pakistan telah berulang kali menuduh pemerintahan Taliban di Afghanistan melindungi dan menyediakan tempat berlindung bagi militan TTP, yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan teror mematikan di wilayah Pakistan. Tuduhan ini menjadi inti dari banyak provokasi dan pelanggaran yang disebutkan oleh Taliban Afghanistan sebagai alasan serangan mereka. Islamabad berpendapat bahwa Taliban Afghanistan, meskipun memiliki hubungan ideologis dan etnis dengan TTP, gagal atau tidak mau mengambil tindakan tegas terhadap kelompok teroris ini. Situasi ini menciptakan dilema keamanan yang kompleks bagi Pakistan, yang merasa terancam oleh kehadiran militan di sepanjang perbatasan yang tidak terkendali. Serangan udara Pakistan ke Kabul dan Kandahar, yang menandai perubahan signifikan dalam strategi Islamabad, dapat diinterpretasikan sebagai pesan keras bahwa Pakistan tidak lagi akan mentolerir apa yang mereka anggap sebagai dukungan Taliban terhadap kelompok-kelompok anti-Pakistan.
Korban jiwa dalam konflik ini terus bertambah, dengan kedua belah pihak melaporkan angka yang berbeda dan saling menyalahkan. Sementara militer Afghanistan mengklaim telah menewaskan 55 tentara Pakistan dan merebut 19 pos militer, laporan-laporan awal dari Afghanistan sendiri menyebutkan bahwa serangan balasan Pakistan menewaskan sedikitnya 18 orang di pihak Afghanistan. Disparitas dalam angka-angka ini seringkali menjadi ciri khas konflik bersenjata, di mana informasi menjadi bagian dari perang psikologis. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa eskalasi ini telah menimbulkan kerugian manusia yang signifikan, menambah daftar panjang penderitaan di wilayah yang sudah lama dilanda konflik dan ketidakstabilan. Intensitas baku tembak dan pengeboman menunjukkan bahwa ini bukan lagi sekadar insiden perbatasan biasa, melainkan sebuah konfrontasi yang berpotensi memicu spiral kekerasan yang lebih besar.
Diplomasi di Tengah Kobaran Api: Tawaran Negosiasi dan Seruan Internasional
Meskipun situasi di lapangan telah berkembang menjadi “perang terbuka” dan retorika yang keras dari kedua belah pihak, ada secercah harapan untuk de-eskalasi. Pemerintahan Taliban Afghanistan, di tengah ancaman dan serangan udara yang dilancarkan Pakistan, telah menyatakan kesiapan mereka untuk membuka jalur negosiasi. Tawaran dialog ini, meskipun datang di tengah kobaran api, menunjukkan bahwa mungkin masih ada ruang untuk penyelesaian diplomatik. Kesiapan Taliban untuk bernegosiasi dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk meredakan ketegangan dan mencegah konflik agar tidak semakin memburuk, atau mungkin juga sebagai taktik untuk mendapatkan waktu dan dukungan internasional.
Komunitas internasional pun tidak tinggal diam. Sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Irak, telah menyerukan penghentian segera pertempuran dan mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. Seruan-seruan ini mencerminkan kekhawatiran global akan dampak destabilisasi dari konflik bersenjata antara dua negara bertetangga ini, terutama mengingat peran Afghanistan dalam isu terorisme regional dan krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung. Intervensi diplomatik dari negara-negara regional dan kekuatan besar dapat memainkan peran krusial dalam menengahi gencatan senjata dan mendorong dialog konstruktif, meskipun tantangannya sangat besar mengingat tingkat saling tidak percaya dan klaim yang kontradiktif dari Pakistan dan Taliban.
Masa depan hubungan Pakistan-Afghanistan kini berada di ujung tanduk. Dengan kedua belah pihak sama-sama mengklaim telah menimbulkan kerugian besar dan pintu dialog yang ditawarkan, namun juga perang terbuka yang dideklarasikan, ketidakpastian mendominasi. Konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas regional tetapi juga berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan di Afghanistan dan meningkatkan ancaman terorisme di Pakistan. Jalan menuju perdamaian dan stabilitas akan sangat sulit dan memerlukan komitmen serius dari kedua belah pihak untuk mengatasi akar permasalahan, termasuk isu Garis Durand dan penanganan kelompok militan, melalui dialog yang tulus dan berkelanjutan.

















