Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran. Pernyataan mengejutkan ini muncul di tengah upaya Washington untuk memaksa Teheran mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, sebuah langkah yang dibarengi dengan peningkatan signifikan kekuatan angkatan laut AS di kawasan tersebut. Ancaman ini, yang disampaikan setelah negosiasi intensif di Jenewa dan diiringi ultimatum 10-15 hari, menggarisbawahi strategi tekanan diplomatik dan militer yang diterapkan AS untuk mengubah arah kebijakan Iran, dengan konsekuensi “hal-hal yang sangat buruk” jika tuntutan Washington tidak dipenuhi. Siapa yang akan menyerang? Amerika Serikat. Apa yang akan diserang? Iran. Kapan? Setelah tenggat waktu 10-15 hari. Mengapa? Untuk memaksa kesepakatan nuklir. Bagaimana? Dengan serangan militer terbatas dan penempatan armada laut.

















